Rendi berpendapat, bahwa nama “Pringsewu” sejatinya memiliki filosofi yang dalam berkaitan dengan bambu, yaitu bambu seribu. Namun sayangnya, sumber daya alam (bambu-red), era kini sangat sulit ditemukan di Kabupten Pringsewu.
Padahal lanjut Rendi, bila pemerintah bisa jeli dalam mengembangkan aneka jenis bambu, hal ini bisa menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sebab, peluang usaha dan kreasi yang menggunakan bahan dasar bambu cukup potensial dan menggiurkan. “Bambu kita habis, dikirim keluar daerah dan dijual dengan harga sangat murah,” kata dia.
Rendi berharap pemerintah hendaknya menggalakan aneka ragam tanaman bambu. Supaya ketersediaan bahan baku kerajinan bambu tercukupi. Juga bisa sekaligus sebagai wahana edukasi dan wisata Kebun Bambu.
Rendi juga mengemukakan pendapatnya, bahwa Pemerintah Kabupaten Pringsewu tidak memilki konsep yang jelas atas makna Pringsewu itu sendiri (seribu bambu-red).
“Pemda Kabupaten ini hanya mengedepankan simbol, dengan banyak berdirinya icon tugu bambu semata yang terbuat dari coran semen,” sindirnya.
Harapannya keberadaan bambu sebagai ciri khas Kabupaten Pringsewu tetap terus bisa terjaga dan dilestarikan dari masa ke masa. “Selain itu, bambu juga harus bisa diarahkan menjadi sumber pendapatan masyarakat, dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” harap Rendi. (M2t)
Baca Berita Terkini Lainnya dari Media Online Lappung.COM di——> Klik: GOOGLE NEWS
