Dia menambahkan, saat ini ada 8 SPBU di wilayah hukum Polres Pringsewu yang terus dipantau. Ini sebagai langkah antisipasi adanya tindak pidana penyalahgunaan BBM bersubsidi. Pasalnya setelah harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax naik, permintaan BBM subsidi memang mengalami peningkatan.
“Nah, setiap hari anggota di lapangan terus melaporkan ketersediaan BBM di wilayah Kabupaten Pringsewu. Kalau sampai saat ini, hasil laporan masih relatif aman dan stok masih cukup,” ungkapnya.
Pihaknya menghimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying BBM bersubsidi jenis solar dan pertalite, karena hal ini justru dapat memicu adanya kelangkaan BBM. “Tentunya pihak kepolisian akan melakukan penindakan hukum, apabila terdapat penyimpangan yang dilakukan, seperti penimbunan BBM dan lain sebagainya,” tegasnya.
Sahrul, pengelola SPBU 24-35354, Pringsewu, yang berlokasi di ruas Jalan Lintas Barat, Kelurahan Pajarisuk, Kecamatan Pringsewu. Mengatakan, bahwa distribusi BBM sudah kembali normal, hal itu ditandai dengan tidak terdapatnya antrian panjang saat pembelian BBM.
Lanjutnya, Khusus BBM jenis solar, permintaan sudah mulai menurun dibandingkan beberapa Minggu sebelumnya. Jika sebelumnya 16 ribu liter stok solar habis dalam sehari, saat ini bisa habis hingga dua hari lamanya.
Sementara itu pasca kenaikan BBM jenis Pertamax, permintaan pertalite justru meningkat. Bahkan dalam sehari pihaknya meminta penambahan stok dari depo hingga 24 ribu liter atau 24 ton.
“Harga BBM pasca kenaikan pada 1 April lalu, BBM bersubsidi jenis solar masih diangka Rp. 5.150 dan pertalite Rp 7.850. Sedangkan BBM nonsubsidi, Pertamax Rp 12.750 dan Pertamina DEX Rp 14.000,” ujar Sahrul.





Lappung Media Network